Teknologi & Internet

Pertumbuhan Pengguna Internet Indonesia dalam Lima Tahun Terakhir

Pengguna internet Indonesia terus bertambah, tetapi pertumbuhan tidak hanya berarti lebih banyak orang memiliki koneksi. Kualitas jaringan, keterjangkauan paket data, perangkat, kemampuan digital, dan keamanan menentukan manfaat yang benar-benar diterima pengguna.

Grafik garis penetrasi internet Indonesia menurut APJII dari 64,8 persen pada 2018 menjadi 79,5 persen pada 2024
Penetrasi internet Indonesia menurut survei APJII. Tahun tanpa titik survei tidak diinterpolasi.

Tren penetrasi menurut APJII

APJII melaporkan tingkat penetrasi 64,8 persen pada 2018, 73,7 persen pada periode 2019–2020, 77,01 persen pada 2022, 78,19 persen pada 2023, dan 79,5 persen pada 2024. Pada survei 2024, jumlah pengguna diperkirakan mencapai 221.563.479 orang dari populasi acuan 278.696.200 jiwa.

Tahun/periode Penetrasi internet APJII
2018 64,8%
2019–2020 73,7%
2022 77,01%
2023 78,19%
2024 79,5%
Sumber: APJII. Tahun yang tidak memiliki titik survei tidak diisi dengan perkiraan.

Mengapa angka BPS berbeda?

BPS melalui Susenas mencatat 72,78 persen penduduk Indonesia mengakses internet pada 2024. APJII dan BPS menggunakan definisi, sampel, pertanyaan, dan populasi acuan yang tidak identik. Karena itu, angka keduanya sebaiknya digunakan sesuai konteks, bukan dipertandingkan seolah mengukur hal yang persis sama.

Data jumlah pengguna juga berbeda dari jangkauan iklan platform atau jumlah akun. Satu orang dapat memiliki beberapa akun, sementara akun tidak selalu aktif. Untuk pembahasan berbasis data, label metrik harus disebutkan bersama tahun dan sumbernya.

Apa yang mendorong pertumbuhan?

  • Perluasan jaringan seluler dan tetap ke wilayah yang sebelumnya kurang terlayani.
  • Perangkat yang tersedia pada lebih banyak rentang harga.
  • Kebutuhan komunikasi, pendidikan, kerja, hiburan, navigasi, dan layanan publik.
  • Pertumbuhan perdagangan serta pembayaran digital.
  • Kebiasaan yang terbentuk setelah pandemi, termasuk rapat dan layanan jarak jauh.

Pertumbuhan belum menghapus kesenjangan

Seseorang dapat tercatat pernah mengakses internet tetapi tetap menghadapi jaringan lambat, kuota terbatas, perangkat bersama, atau keterampilan digital rendah. Kesenjangan kualitas ini memengaruhi kemampuan belajar, bekerja, mengakses layanan, dan menjalankan usaha. Angka penetrasi yang meningkat perlu dibaca bersama kualitas dan keterjangkauan.

Komposisi survei APJII 2024 menunjukkan kontribusi pengguna dari wilayah urban lebih besar daripada rural. Angka kontribusi bukan tingkat penetrasi masing-masing wilayah; keduanya memiliki penyebut berbeda. Kesalahan membaca penyebut dapat menghasilkan klaim “desa lebih terkoneksi” atau sebaliknya tanpa dasar.

Dampak terhadap ekonomi dan kebiasaan

Basis pengguna yang besar memperluas pasar e-commerce, pembayaran digital, media, pendidikan daring, dan layanan berbasis lokasi. Lihat keterkaitannya pada artikel tren belanja online 2026 dan transportasi online di kota besar.

Jumlah pengguna tidak menjawab berapa lama mereka online. Durasi sangat dipengaruhi usia, tujuan, dan perangkat. Penjelasan metode tersedia pada artikel durasi penggunaan internet masyarakat Indonesia.

Analisis Ruang Aktual

Kenaikan penetrasi setelah 2022 terlihat lebih lambat dibanding lonjakan antara 2018 dan 2020. Hal ini wajar ketika basis pengguna sudah besar: kelompok yang belum terhubung cenderung berada di wilayah atau kondisi yang lebih sulit dilayani. Tahap berikutnya bukan sekadar mengejar jumlah, melainkan memastikan koneksi cukup andal dan terjangkau untuk kegiatan produktif.

Bagi media digital, pasar yang besar bukan alasan menerbitkan konten massal tanpa nilai tambah. Pembaca tetap membutuhkan sumber yang jelas, konteks, pengalaman lokal, dan pembaruan ketika data berubah. Kualitas kepercayaan menjadi pembeda ketika produksi konten semakin mudah.

Sumber rujukan

Catatan editorial: data diperiksa kembali pada 9 September 2026. Seri APJII ditampilkan hanya pada tahun/periode yang disebutkan oleh sumber.

Irgy Y.

Irgy Yanfahrezy adalah pengelola dan penulis Ruang Aktual yang membahas teknologi, ekonomi digital, perilaku konsumen, serta perkembangan masyarakat Indonesia. Setiap artikel ditinjau dan disunting sebelum diterbitkan.

1 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *